berita

Hari Lupus 10 Mei

12 Februari 2012

TANGGAL  10 Mei  merupakan “Hari Lupus Sedunia.”

Sindroma Lupus Eritematosus  adalah penyakit autoimun, sejenis alergi terhadap diri sendiri. Zat anti yang dibentuk sistem kekebalan tubuh yang biasanya berfungsi melindungi tubuh melawan kuman, virus dan benda asing lainnya, malahan berbalik menyerang jaringan tubuhnya sendiri. Hal ini menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah, demam, sakit kepala, rambut rontok, nyeri sendi-sendi, otot ngilu, kurang darah, dan kerusakan berbagai organ penting seperti ginjal, susunan saraf, paru, serta jantung

Penyakit Lupus disebut juga penyakit seribu wajah dan lebih banyak menyerang wanita aktif usia produktif 15 – 45 tahun

Perjalanan penyakitnya bersifat episodik (berulang) yang diselingi periode sembuh.

Pada setiap penderita, peradangan akan mengenai jaringan dan organ yang berbeda sehingga setiap pasien mempunyai serangkaian gejala yang sangat berbeda.

Tampilan penyakit ini sedemikian beragam, Lupus dapat pula tampil mirip dengan penyakit lain, seperti artritis reumatoid, tuberkulosis, demam berdarah dengue, demam tifoid dan lain-lain, sehingga sulit terdiagnosis atau bahkan didiagnosis dengan penyakit lain yang mempunyai gejala mirip dengannya.

Lupus juga dapat disertai dengan penyakit lainnya seperti radang kelenjar gondok, meningkatnya kekentalan darah, bahkan beberapa penyakit kanker seperti kanker indung telur. Hal ini tentu saja lebih mempersulit diagnosis dan pengobatannya.

Karena tampilan dan gangguan organ yang diakibatkan lupus sangat beragam, para penderitanya tidak berobat ke satu spesialisasi. Mereka mengunjungi berbagai spesialis bahkan subspesialis seperti spesialis kulit, penyakit dalam, subspesialis reumatologi, ginjal, darah, dan imunologi, tergantung dokter mana yang tersedia dan gejala mana yang lebih dominan.

Diagnosis didasarkan pada hasil wawancara medis, pemeriksaan fisis dan laboratorium. Pada lupus belum ada satu pemeriksaan laboratorium pun yang menjadi standar baku untuk diagnosis.

Diagnosis biasanya dibuat berdasarkan kriteria yang disusun oleh para pakar reumatologi Amerika.

Kriteria diagnosis SLE menurut ARA (American Rheumatism Association): *

  1. Eritema malar (butterfly rash)
  2. Ruam discoid (bercak merah pada kulit pipi dan daerah lainnya sebesar uang logam)
  3. Fotosensitivitas
  4. Ulserasi mukokutaneus oral atau nasal (sariawan mulut atau hidung)
  5. Artritis non erosif (radang/nyeri sendi)
  6. Nefritis (radang ginjal) à(proteinuria >0,5 g/ 24 jam dan sel silinder +)
  7. Ensefalopati  (radang syaraf otak)
  8. Pleuritis atau perikarditis (radang selaput paru atau jantung)
  9. Sitopenia (Gangguan sistem darah)
  10. Imunoserologi** (Antibodi antidouble stranded DNA, Antibodi antinuklear Sm)
  11. Antibodi antinuklear (ANA)

Untuk kepentingan klinis tidak perlu menunggu gejalanya lengkap 4 dari 11 parameter tersebut. Jika ada satu atau dua gejala klinis ditambah dengan pemeriksaan ANA/anti dsDNA positif, atau gangguan beberapa organ tanpa pemeriksaan laboratorium sebenarnya sudah dapat menentukan diagnosis lupus.

Pemeriksaan penunjang (Laboratorium)

  • Darah tepi lengkap,
  • LED,
  • urinalisis,
  • sel LE, ANA*,
  • antibodi anti doublestranded-DNA*,
  • antibodi antifosfolipid,
  • antibodi lain (anti-Ro, anti-La, anti-RNP),
  • faktor rheumatoid,
  • titer komplemen C3,C4,dan CH50*,
  • titer IgM ,IgG, dan IgA,
  • uji Coombs,
  • kreatinin, ureum darah*,
  • protein urin >0.5 gram/24 jam (Nefritis)*,
  • dan pencitraan (foto Rontgen toraks*, USG ginjal, MRI kepala)

 

Dalam menegakkan diagnosis tidak semua pemeriksaan laboratorium ini harus ada, tetapi pemeriksaan awal (diberi tanda*) sebaiknya dilakukan.
Penatalaksanaan

Penatalaksaan LES harus mencakup obat, diet, aktivitas yang melibatkan banyak ahli. Alat pemantau pengobatan pasien LES adalah evaluasi klinis dan laboratorium yang sering untuk menyesuaikan obat dan mengenali serta menangani aktivitas penyakit.

Lupus adalah penyakit seumur hidup, karenanya pemantauan harus dilakukan selamanya.

Hingga kini, belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan lupus secara total

Tujuan pengobatan LES adalah mengontrol manifestasi penyakit, sehingga penderita  dapat memiliki kualitas hidup yang baik tanpa eksaserbasi  berat, sekaligus mencegah kerusakan organ serius yang dapat menyebabkan kematian.

Diet

Restriksi diet ditentukan oleh terapi yang diberikan. Sebagian besar pasien memerlukan kortikosteroid, dan saat itu diet yang diperbolehkan adalah yang mengandung cukup kalsium, rendah lemak, dan rendah garam. Pasien disarankan berhati-hati dengan suplemen makanan dan obat tradisional.

Aktivitas

Pasien lupus sebaiknya tetap beraktivitas normal. Olah raga diperlukan untuk mempertahankan densitas tulang dan berat badan normal. Tetapi tidak boleh berlebihan karena lelah dan stress sering dihubungkan dengan kekambuhan.

Pasien disarankan untuk menghindari sinar matahari, bila terpaksa harus terpapar matahari harus menggunakan krim pelindung matahari (waterproof sunblock) setiap 2 jam. Lampu fluorescence juga dapat meningkatkan timbulnya lesi kulit pada pasien LES.

Prognosis

Wanita penderita lupus yang hamil dapat bertahan dengan aman sampai melahirkan bayi yang normal, bila tidak ditemukan penyakit ginjal ataupun jantung yang berat dan penyakitnya dapat dikendalikan.

Prognosis yang paling buruk ditemukan pada penderita yang mengalami kelainan otak, paru-paru, jantung dan ginjal yang berat.

Semoga para Odapus ( Orang dengan  Lupus )  tetap semangat dan NEVER GIVE UP….!!